Kamis, 23 April 2015

KaTa kaTa muTiaRa

Kata Kata Mutiara

Luka terdalam adalah luka yang tidak bisa dilihat oleh mata, dan kesedihan terdalam adalah kesedihan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

Jangan pernah melupakan pemberian dari ALLAH
baik itu anugrah atau cobaan karena akan selalu ada
makna disetiap peristiwa.

Percayalah hari ini akan lebih baik indah 
dari hari kemarin.Jika kita mengawalinya
dengan doa dan senyuman.

Bersyukur adalah cara terbaik agar merasa
cukup,bahkan disaat kekurangan.Jangan berharap 
lebih sebelum kita berusaha lebih.

Sahabat adalah mereka yang mampu mengeluarkan kemampuan 
terbaik yang ada dalam diri kita dan mereka 
yang selalu memberi kita semangat.

Sahabat bukan mereka yang menghampiri kita ketika mereka butuh,
 namun mereka yang tetap bersama kita ketika seluruh dunia 
menjauh dari kita.

Mencintai tidak hanya sekedar ununtuk dicintai, tetapi bagaimana 
menjaga dan menghargai perasaan yang disebut cinta.

Hidup ini bukan tentang apa yang dipikirkan mereka yang membencimu,
namun tentang apa yang dipikirkan Tuhan yang menyayangimu.

Kebahagiaan  bukanlah disaat kita memiliki kesempurnaan, 
namun ketika kita dapat  menerima ketidaksempurnaan dengan 
tulus dan ikhlas.

Berhati-hatilah dalam memilih teman, karena waktumu terlalu
berharga untuk mereka yang tidak pernah menghargai waktumu.

Luka terdalam adalah luka yang tidak bisa dilihat oleh mata, dan kesedihan terdalam adalah kesedihan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Read More ->>

Jumat, 27 Maret 2015

Dalam Naungan Tasbih Cinta

Ketika lubuk terkecup asmara
Siapa daya membendung gemuruhnya
Namun luka yang telah menganga
Tak akan sanggup menghalang hakikat cinta

Di ujung utara pulau jawa
Pujangga cinta dan dara jelita
Rela merana demi membuktikan getar getar cinta
Dunia dan kilau permata
Tak akan mampu menghibur sang pujangga

Teras hati gersang kerotan serasa
Hanya seulas senyum sang dara
Mampu membuat bualan mimpinya
Terjaga dibawah Naungan tasbih cinta


*****

Seulas senyum senja, membentang memenuhi hamparan cakrawala, dercak-dercak jingganya menebar merata menghiasi angkasa raya. Salah satu lukisan ilahi yang mempesona. lutfi yang sudah dua tahun nyantri di bumi lantani tersenyum penuh suka cita, hatinya riang gembira, tak henti hentinya iya memandang kota tuban, tanah kelahirannya. ’’sebentar lagi’’ pikirnya ketika bus mutiara yang ditumpanginya singgah di terminal kota Tuban. Tiada yang membuatnya lebih bahagia dari pada liburan dan pulang ke kampung halaman.
Akhirnya Setelah salam salaman sama orang tua, saudara-saudara, semua famili di rumah, dan tak lupa ia juga mampir menyapa tetangga dekatnya, lutfi yang memang bertampang lumayan kece itu melepas penatnya di taman belakang rumah yang penuh dengan tanaman hias.
‘’assalamualaikum’’ sebuah suara menengahi kesendiriannya, suara yang tak asing di telinga lutfi walau ia telah lama meninggalkan kampungnya. Ia menoleh.
‘’Waalaikum salam.. hai farid! Gimana, wah tambah gemuk aja nich....’’ sahutnya seraya memberikan tempat pada teman lamanya itu untuk turut bersantai menikmati tanaman hiasnya. Obrolan ringan karena kerinduan pun mulai mengalir di antara keduanya..
‘’ea lut, entar malem ada pengajian nich, tempatnya di rumah H. Syafi’i, seberang jalan tuh!... "sela farid sembari menunjuk rumah di pinggir jalan raya yang di bentangi dengan pagar besar bak istana kerajaan.
"Ea... insya allah’’ jawab lutfi datar.
‘’pokoknya kamu harus datang, ok! Udah ya, assalamualaikum’’ Farid berpamitan.
‘’Waalaikum salam” jawabnya. Lutfi tersenyum simpul memandang sahabatnya lenggak lenggok berlalu. Biasa “jemblong” tuh!.
*****

Acara tasyakuran di rumah H. syafi’i tampak meriah. Semua tamu yang mayoritas wong kopyahan atau jilbaban tampak bersuka cita, terhanyut oleh lantunan nasyid annabawiyah lantany. Tak ketinggalan Lutfi tampak bersahaja dengan setelan baju takwa putih yang juga berbaur bersama. Bibirnya tiada henti bersholawat seiring lagu, sementara penglihatannya mulai menyapa seluruh isi ruang yang penuh orang. Mereka adalah keluaga islami yang memancarkan cahaya keimanan dan berkah dari setiap sisi dinding rumahnya. Lafadz agung Allah, gambar orang orang yang berjasa di masanya seperti para wali, kyai besar dan juga bapak presiden Abdurrahman Wahid terhias di sepanjang dinding.
Namun diam diam Lutfi menemukan sebentuk bidadari di penghujung tatapannya. Sebelum acara selesai, lutfi sempat berkenalan dengan seorang dara jelita itu, wajahnya yang ayu dibalut jilbab dan sepasang mata bak permata yang tidak pernah di temui oleh penyelam di sepanjang samudra membuatnya tersihir oleh rasa pesona. “Siti Zulaikhah”, begitu iya menyebutkan nama. Lutfi tidak dapat berkata, ia mencoba menahan gemuruh lubuk hati yang kian membahana dan mulai meneruskan perkenalan. “ Lutfi Mabruri”.
Zulaikhah hanya menundukan kepala, cahaya aura lutfi telah memenjarakan hatinya. Tanpa sadar ada getaran yang menyala di sudut hatinya. Walau pada pandangan pertama kedua, detak hati insan ini tak bisa berdusta, bara asmara telah menyala dan berkobar menerangi istana atas nama cinta. Tak ada kata terucap, hanya isyarat kerlingan mata yang syahdu memenuhi waktu mereka, sampai acara selesai.
*****

Waktu tak pernah berhenti menelan ruang kisah manusia. Lutfi dan zulaikhah, walaupun hanya merangkai bayangan syahdu, mereka bahagia dan tidak lelah merajut siang dengan syair-syair indah membingkai malam dengan lagu-lagu rindu. “duhai khusni, bantulah hamba yang lemah ini”
“emang ada apa?” khusni tampak mengerutkan kening, wajah sobatnya pucat. “kamu sakit?” sambungnya lagi.
“karena sakit ini aku menemukan kenikmatan yang tiada tara, suatu kelezatan yang terilham dari syurga.” . mimik muka lutfi serius, khusni hanya melongo heran. “kenapa nih anak,” pikirnya dalam hati. “tolong serahkan surat ini pada zulaikhah” tangan lutfi gemetar menyerahkan surat pada khusni.
“oh,.. ini ta masalahnya, kirain ada apa. Ok deh !”
“sampaikan salamku padanya”, suara lutfi kian serak ada titik linang tertahan di pelupuknya. Setelah khusni berlalu, lutfi tak mampu menahan air mata, ia menangis karena bahagia, sepatah sayapnya telah di bawa oleh khusni tuk di persembahkan pada sang kekasih.
“zul, ini dari lutfi, dia juga nitip salam buat kamu” khusni menyerahkan sepucuk surat pada zulaikhah dan langsung pamit pulang.
Teruntuk adinda siti zulaikhah
Duhai sepasang sayap rinduku.
Ketika siul camar mendenting.
Dawai-dawai asmara.
Seisi alam teriak cemburu.
Saat ku rengkuh lukisan indah senyumu.

Duhai belahan sanubari.
Saat waktu mulai menghapus kisahku.
Kutemukan bias rinduku untukmu.
Hingga tak henti alam mimpiku.
Mengukir percik percik kilau auramu

Duhai separuh nafasku.
Hesrat hati merangkai kisah mempesona.
Bersama sang adinda, menelusuri indahnya taman nirwana.
Harap hati bingkai asa ini tak terlalu maya tuk jadi nyata

Maukah dinda merajut serat-serat rindu bersama musafir cinta ini?.

Makhluk lemah, Lutfi Mabruri .


*****
Brak!!, zulaikhah tak sadarkan diri, panah-panah rindu telah menusuk dan merobek-robek pikiran jernihnya. Setelah sadar, dengan langkah lunglai ia mengambil wudhu, lalu shalat dua rakaat. Dalam doa ia menangis sejadi jadinya “ Robby,.. engkau maha mengerti walau hanya sebisik hati, haruskah diri menghabiskan sisa akhir nafas hidupku, hanya terpaku merindu, membiarkan diri lupa akan kehangatan kasih-Mu. Robby... segarkanlah gersang lubuk dengan tetesan agung rahmatmu, sungguh nirwana cinta telah menghabiskan waktu tuk bercumbu bersama-Mu... amiin..” Sekali lagi zulaikhah pingsan, mukenanya basah oleh air mata yang menghiasi cawan cintanya yang telah mengekang detak jantungnya.
*****

Di ufuk timur nan jauh di sana, sang fajar masih tersenyum elok menghiasi tebing-tebing cakrawala bersama lelehan air mata, zulaikhah menulis balasan surat pada lutfi.segala rasa, segala cinta , segala duka ia tumpahkan pada secarik kertas di hadapanya. Setelah selesai ia mencium beberapa kali sebelum di titipkan pada khusni.

“ ya robby.... selamatkanlah dia sampai tujuan, karena dia membawa separuh nafasku. Amiin...” ratap zulaikhah pada relung hatinya.


Buat insan yang ku puja Atas nama cinta...

Yang telah mengukir prasasti-prasasti suci.
Di retak dan dinding sanubari.
Hanya seulas senyum sang kekasih dinanti.
Ketika beratus kali angan tersuruk-suruk
Menelusuri dimensi dengan segenggam sunyi.

Duhai musafir cinta
Di setiap langkahmu ku dengar.
Dentingan syair-syair rindu yang tulus.
Berirama bersama alunan lagu.
Yang menyatukan cinta dan rindu.

Wahai pelipur laraku.
Di saksikan siraman sang purnama.
Mari kita meneguk rasa di cawan cinta.
Tuk mengikrarkan satu kata cinta Semoga perjalanan kita nanti di ridhoi Allah sang maha adidaya.

Amiin...

Perindumu.


*****

Di iringi derai air mata, ia bersujud syukur, syukur atas panah cintanya yang terarah. Tepuk cintanya Tak sebelah. “ ya ilahi... dzat yang maha mengetahui segala detak-detak hati hamba. Bukan maksud hamba memadumu, diri tak punya daya tuk berpaling dari lukisan syurga yang engkau ilhami.”
Lutfi hanya bisa mengadu pada sang rab nya. Tak mungkin ia menemui sang kekasih untuk mengobati sakit rindu, karena syariat melarangnya. Memang tidak ada kata toleransi dalam agama islam tuk memperbolehkan pacaran.
Tak terasa 14 hari terlewati antara lutfi dan zulaikhah memadu kasih, merangkai rindu hanya melewati tarian pena, namun mereka tetap bahagia merajut kasih di “alam maya”. Seharian lutfi nampak gelisah, karena besok sudah harus balik ke PPS, dalam hatinya ada dua sisi yang berkecambuk, “antara cita-cita atau pesona cinta”. Tak ada jawaban atas pertanyaan hatinya. Hari rabu tanggal 24 R. Awal, ia memutuskan balik tepat waktu ke PPS.

Yach...! demi tholabul ilmi, ia bungkus cintanya dengan harapan yang mulia, demi syiar agama ia kekang gumuruh jiwanya dengan tasbih dan istighfar. Demi cita-cita suci ia bingkai rindunya dengan dzikir dan sholawat.
Sebelum berangkat, lutfi menemui khusni yang telah membawa rindunya pada zulaikhah.

“selamat jalan saudaraku, insya allah dengan mendekatkan diri pada sang khalik engkau mampu meredam nafsu cintamu” ucap khusni lirih, mereka tak mampu menahan air mata dalam rangkulan dua sahabat fillah. Khusni sekarang menuju rumah zulaikhah, surat terakhir dari lutfi ia pegang erat-erat, ada perasaan iba dan bangga pada perjalanan cinta kedua insan ini.

Dalam Naungan Tasbih Cinta 

*****
Buat habibah fillah

Habibi....
bersamamu hati menemukan kasih syahdu.
Barsamamu angan merasakan hangatnya rindu.
Bersamamu asa merangkai serat-serat rasa.
Bersamamu jiwa membingkai kasih mempesona.

Kasihku....
Selama angin musim semi menggoyangkan helai-helai cendan.
Tak kan henti denyut nadiku merajut indah di hela aksara namamu.
Demi semua penghuni semesta.
selama hempas semilir senja, Tak lelah melambaikan janur kelapa.
Menghabiskan waktu merangkuh rindu. Sekarang yach... sekarang...
Mungkin kita harus meregangkan rindu ataupun cinta yang menggebu.
Demi cinta demi masa depan yang bercahaya.
Insya allah kita akan sebenderang purnama

Kasihmu
Lutfi mabruri.
“selamat jalan pangeranku... moga kita menemukan sisa-sisa percik rahmatnya. Insya allah sampai kapanpun aku akan menunggumu wahai pujaanku”. Dengan cucuran air mata zulaikhah mengecup lembut surat terakhir dari pujaanya.
Read More ->>

Ibadah terakhir

Ibadah terakhir

“Bangun nak… udah subuh ayo shalat” ajak mama padaku.
“Iya ma… udah bangun nih” kataku pada mama.
Dengan agak ngantuk, kuturunkan kakiku ke lantai dan berjalan untuk mengambil air wudu’. Sesudah mengambil air wudu’ aku shalat subuh berjama’ah bareng ayah, mama, kak syasa dan fahri. Lalu aku mandi dan bersiap-siap untuk bergegas ke sekolah, aku salami tangan ayah dan mama, dan “assalammualaikum” ucapku pada mama dan ayah. “Wa’alaikumsalam” ucap mereka lagi. Ku naik sepeda olahraga kesayangan ayah dan kukayuh pedal sepedanya sekuat tenagaku.
Aku sudah sampai di sekolah, tapi rasa lelahku masih ada. “Hello… good morning” sapa ririn dan nisa yaitu sahabatku.
“Good morning too… harusnya kalau jumpa sesama muslim ucap ASSALAMMUALAIKUM donk” sapaku sekaligus nasehatku pada mereka.
“Iya deh…” Kata ririn padaku.
“I too” sambung nisa.
“Sof, ke kelas yuk” ajak ririn padaku.
“Kalau aku gak diajak” rajuk nisa pada aku dan ririn.
“Kamu juga donk…” Ajakku pada nisa.
Aku, ririn dan nisa pun berjalan di kelas. “Nisa kamu bawa al-Qur’an?” Tanyaku pada nisa.
“Bawa donk..”
“Pinjam nis..”
“Nah…”
Nisa pun meminjamiku al-Qur’an, lalu kubaca juz 30. setelah membaca al-Qur’an, aku menuju mushalla yang dekat dengan sekolahku dan kumasuki uang saku ku semua dalam kotak infaq. kata ibu guruku beramal itu indah, hatiku menjadi tenang. Aku pun kembali menuju ke kelas karena bell sudah berbunyi.
Ketika aku di kelas, “semoga itu bisa jadi ibadah terakhir..” Kataku dengan bahagia. Tiba-tiba tetesan darah keluar dari hidungku. Semua teman yang melihatku terkejut. pandanganku menghitam, badanku lemas tak berdaya hingga aku terjatuh di lantai putih kelas.
“Dimana aku?” Tanyaku dalam hati. kulihat di sekelilingku semua indah yang tak dapatku ucapkan.” Apa ini namanya surga? tempat yang dijanjikan oleh Allah SWT untuk orang-orang yang beriman” tanyaku dalam hati lagi. aku pun berkeliling hingga puas dengan tempat ini.
Aku buka kelopak mataku perlahan-lahan, hidung dipenuhi selang dan tanganku ada infus. kulihat di sekelilingku ayah, mama, bu yulia dan semua temanku termasuk dua sahabatku. “Sofia udah sadar te..” Kata ririn dengan kegirangan pada mamaku.
“Dimana aku ma?” Tanyaku pada mama.
“Di rumah sakit sayang..” Jawab mama dengan sedih.
Tanganku merogoh saku yang berada di rok sekolah dan kuberikan pada mama dan mama pun membacanya
Surat untuk keluarga dan sahabat
Mama ayah aku masih menyayangimu, dan dapat yang aku ucapkan kepadamu hanya kata TERIMA KASIH atas segalanya. aku sebenarnya tak ingin meninggalkan ayah, mama, kak syasa dan fahri tapi ini takdir Allah SWT. Sudah 1 tahun aku terkena kanker darah. Allah, tante aina dan aku yang mengetahuinya. Aku dan tante aina sengaja tidak memberi taukan tentang penyakit ini aku takut ayah, mama, kak syasa dan fahri sedih atas penyakit ini, kata mama benar kalau beramal hidup akan tenang, dan terima kasih buat Ririn dan Nisa sahabatku telah mengajari apa arti hidup ini. jika aku pergi jangan tangisi aku lagi, aku sayang kok sama kalian semua dan ikhlaskan aku pergi dengan iringan doa.
Salamku
Sofia
Keluarga dan sahabatku menangis, “as’adulallah ila ha’illalah wa as’adu anna muhammadar rasullah” kataku sambil melipatkan tangan, aku menghembuskan nafas terakhirku.
Read More ->>

Rabu, 11 Maret 2015

CINTAKU BERLABUH DI MESIR

CintaKu Berlabuh Di MESIR



Narina masih saja sibuk dengan komputernya, ia tengah melengkapi data-data yang harus ia bawa ke Mesir. Pikirannya masih kacau balau, ibunya bersikukuh untuk tidak mengijinkannya pergi ke Mesir.
Ditengah kesibukannya, Ibu Nafisah memanggil anaknya,
“Narina ayo keluar dari kamarmu, sekarang sudah waktunya makan siang. Sudah sejak tadi pagi kau tidak keluar kamar.”

Dengan setengah berlari ia pun keluar kamar, jilbabnya yang anggun membuat ia terlihat lebih cantik, “Ia bu, tunggu sebentar.” Ia segera duduk dan bersiap untuk makan, sebelum makan ia mencuci tangannya terlebih dahulu.
“Ayah mana bu? Kok dia gak makan bareng kita?”
“Ayahmu sedang keluar sebentar, ngga lama lagi ayahmu juga pulang nak.”
“ Oh ya bu, rencananya minggu depan aku akan berangkat ke Mesir. Semua data-data yang aku butuhkan sudah hampir selesai…
Belum selesai bicara, ibunya langsung memotong ucapan anaknya, “ Sudah berapa kali ibu bilang, ibu tak akan pernah mengijinkan kamu untuk pergi ke Mesir. Buat apa sih nak kamu kuliah jauh-jauh disana? Di Jakarta kan juga banyak Universitas Islam yang bagus,”
“Tapi bu kesempatan untuk kuliah disana hanya sekali,” tanpa sadar air matanya pun menetes.
Memang berat bila ia harus berpisah dengan ibunya, terlebih lagi ia akan berada di Mesir selama kurang lebih empat tahun dan belum tentu ia dapat pulang setiap tahun untuk menemui ibunya. Kepergiannya ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya, ia mendapatkan beasiswa di Al Azhar University Cairo. Sejak kecil ia selalu bermimpi untuk pergi ke Mesir dan melihat betapa indahnya Sungai Nil, dan impiannya kini sudah ada di depan mata.
“Tolong ijinkan aku bu, aku hanya beberapa tahun saja disana, aku akan selalu memberi kabar pada ibu. Aku tak akan pernah lupa pada ibu yang sangat aku sayangi,”
“Apapun alasanmu tetap saja ibu tak rela bila harus hidup sendirian tanpamu nak, ibu sangat menyayangimu. Ibu tak ingin kehilangan anak semata wayang ibu, huhuhu (ibunya pun ikut menangis).

Ayahnya pun masuk segera masuk ke dalam rumah ketika ia mendengar suara tangisan yang terdengar dari teras rumah.
“Kenapa kalian berdua menangis?” Tanya sang ayah kebingungan.
“Ibu tetap tidak mengijinkanku untuk berangkat ke Mesir ayah, aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi.”
“Sudahlah bu biarkan anakmu memilih jalan hidupnya, ia sudah dewasa dan ayah yakin kalau ia bisa menjaga dirinya baik-baik.”
“Iya bu, benar apa kata ayah. Aku yakin bisa menjaga diri disana, di Mesir aku juga tidak sendiri. Aku ditemani Hikami dan Amalia, mereka juga kuliah disana,”
“Huh yasudahlah terserah kalian … tapi jika terjadi apa-apa pada Narina, ayah yang akan ibu salahkan.”
Akhirnya Ibu Nafisah mengijinkan kepergian anaknya ke Mesir. Memang berat melepaskan anak semata wayangnya untuk hidup mandiri di Mesir. Ia sangat menyayangi Narina dan kemana saja Narina pergi selalu ditemani ibunya. Wajah mereka pun sangat mirip, bahkan terkadang ada orang yang mengira bahwa mereka adalah kakak beradik. Perbedaan umur diantara mereka juga tidak berbeda jauh, ibunya baru berusia 37 tahun dan anaknya 20 tahun lebih muda dari usianya kini.
***

Tibalah hari yang ia tunggu-tunggu, hari ini adalah hari keberangkatannya ke Mesir. Ia memasukkan semua perlengkapan pribadinya ke dalam koper birunya. Tak lupa ia membawa Novel Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 karangan Habiburrahman El Shirazy, ia sangat menyukai novel itu. Baginya begitu banyak ilmu yang ia dapatkan dari novel itu. Setelah selesai menyiapkan perlengkapannya, ia langsung mengambil air wudhu untuk Salat Dhuha. Ia masih punya waktu setengah jam lagi sebelum berangkat ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sebelum berangkat ia menyempatkan diri untuk menelpon kedua temannya, Hikami dan Amalia, ia ingin memastikan bahwa kedua temannya sudah siap untuk berangkat ke Mesir. Setelah itu tak lupa ia berpamitan kepada kedua orang tuanya,
Narina pun berangkat, tak lupa ia mencium tangan kedua orang tuanya. Baru beberapa langkah berjalan, ia lalu memalingkan tubuhnya dan kembali untuk memeluk ibunya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi jilbab biru mudanya, ia begitu sedih harus berpisah untuk sementara waktu dengan ibunya tapi di sisi lain ia juga tak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk kuliah di Mesir.

Sudah lima jam ia berada di dalam pesawat, perjalannya masih sekitar tujuh jam lagi tetapi ia belum bisa tertidur. Padahal Amalia sudah tertidur pulas, sedangkan Hikami masih saja fokus dengan bukunya. Anak yang satu ini memang suka sekali membaca buku, baginya waktu terasa hambar bila ia tak membaca buku. Narina lalu memutuskan untuk memasang headset dan memutar sebuah lagu favoritnya,

Bertuturlah cinta
Mengucap satu nama
Seindah goresan sabdamu dalam kitabku
Cinta yang bertasbih
Mengutus hati ini
Kusandarkan hidup dan matiku padamu
Bisikkan doaku dalam butiran tasbih
Kupanjatkan pintaku padamu Maha Cinta
Sudah diubun-ubun cinta mengusik resah
Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit
Ketika cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta

Akhirnya ia pun tertidur dalam bait-bait lagu Ketika Cinta Bertasbih, sejurus kemudian ia sudah tiba di Mesir. Hikami membangunkan kedua temannya, sejak tadi pagi Hikami belum memejamkan mata sehingga wajahnya terlihat agak pucat. Mereka pun segera turun dari pesawat dan menuju rumah yang telah disewa oleh Amalia. Kebetulan salah satu kerabat dari Amalia ada yang tinggal di Mesir dan rumah itu sudah tidak ditempati lagi. Wajah Narina tampak begitu bahagia ketika menapakkan kakinya di Mesir, ia seolah tak percaya.
Setelah tiba di rumah, tak lupa Narina memberi kabar pada orang tuanya di Indonesia. Mereka bertiga langsung membersihkan rumah dan beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Ada dua kamar, satu kamar untuk Narina dan yang satunya lagi untuk Hikami dan Amalia. Mereka begitu kelelahan, tetapi Narina memutuskan keluar sebentar untuk mencari makanan. Narina melihat pemandangan di sekelilingnya, begitu banyak wanita bercadar disana. Lalu ia berhenti sejenak ketika ada rumah makan yang menjual makanan asli Indonesia. Ia memperhatikan semua menu yang tersedia, tampaknya ia agak sedikit bingung harus memesan apa. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli 3 bungkus nasi, rendang, sayur nangka, dan es teh. Semuanya dibungkus untuk ia makan bersama kedua temannya. Saat ia ingin keluar, ia hampir bertabrakan dengan seorang lelaki yang sepertinya orang Indonesia juga.
“Maaf maaf, saya sedang terburu-buru.” Ujar lelaki itu dengan nafas yang terengah-engah.
“Iya ngga apa-apa”, sepintas ia terpesona oleh lelaki itu. Wajahnya yang terlihat lelah seperti orang yang tidak tidur semalaman tapi aura yang dipancarkannya begitu memikat bagi siapapun yang melihatnya.
Ternyata kedua temannya sudah bangun dan tengah menonton tv di rumah.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawab kedua temannya hampir bersamaan. “Dari mana kamu Na?”
“Ini aku beli makanan, aku tau pasti kalian laper banget,’’ tanpa disuruh Amalia langsung mengambil piring dan gelas. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Dan lusa adalah hari pertama mereka kuliah, kebetulan Amalia mengambil jurusan yang sama dengan Narina, yakni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam sedangkan Hikami mengambil jurusan Perbandingan Agama.
“Ternyata Al-Azhar gede benget ya, duh ga nyesel deh kuliah disini. Meskipun aku ga dapet beasiswa seperti kalian, tapi aku seneng bisa satu universitas sama kalian.” Kata Amalia. Kebetulan Narina tidak sekelas dengan Amalia, maka ia mencari kelasnya sendiri. Saat ia sedang kebingungan mencari kelasnya, lalu ada seorang lelaki yang menghampirinya, “Lagi bingung nyari kelas ya? Tanya lelaki itu,

Seketika itu juga Narina kaget bukan kepalang, ternyata lelaki yang waktu itu pernah membuatnya terpesona kini ada di hadapannya. Dengan sedikit gugup ia menjawab pertanyaan lelaki tadi, “Ia, dan saya mahasiswa baru disini,” Lalu mereka saling berkenalan, lelaki itu bernama Andi Hanif Rahman. Ternyata Andi juga kuliah di Al-Azhar dan berada dalam jurusan yang sama, tetapi Andi satu tingkat diatas Narina. Ada sedikit rasa senang di hatinya saat ia tau siapa nama lelaki itu, ia merasa apakah ia sedang jatuh cinta atau tidak.
***

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Tak terasa ia sudah tiga tahun di Mesir, rasanya sudah begitu lama ia tak bertemu dengan ibunya. Rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi, terkadang ia menangis dalam sujudnya di malam hari. Pemandangan sungai nil yang begitu indah, membuatnya semakin sedih. Seandainya saja saat ini ada sang ibu yang menemaninya, pasti kebahagiaannya di Mesir akan lengkap sudah. Butir demi butir air matanya menetes, hembusan angin merasuk ke dalam tubuh dan jiwanya. Tanpa sadar ternyata ada seorang lelaki yang berdiri di sampingnya, ia pun segera mengusap air matanya dengan tisu yang ada di sakunya.
“Kuperhatikan sejak tadi, mengapa kau menangis? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu,” Tanya Andi.
Dengan suara serak ia pun membuka suara,”Aku rindu pada ibuku, sudah 3 tahun aku tak bertemu dengannya, oh ya kenapa ka Andi bisa ada disini?”
‘’Hehe sebenarnya aku mengikutimu sejak kau pulang kuliah, kelihatannya kau sangat sedih dan begitu terburu-buru,”
“Ah, mana mungkin kakak ngikutin aku. Hehe kakak ini ada-ada aja,” akhirnya ia pun sudah mulai bisa tersenyum. “Kakak masih inget ngga waktu kita ketemu di rumah makan? Tepatnya tiga tahun yang lalu,”
“Ya iyalah, kakak inget banget malah. Kakak kan suka sama kamu sejak kita ketemu waktu itu…”

Wajah Narina terlihat memerah, sepertinya ia malu dan tidak tau harus berkata apa. Mereka diam sejenak, tak ada yang berani untuk membuka suara. Narina malah pulang ke rumahnya, Andi hendak mengejarnya tapi ia tak punya keberanian. Sebenarnya Andi tak berniat untuk mengatakan itu pada Narina, tapi kata-kata itu keluar seketika dari mulutnya. Ia memang jatuh hati pada Narina sejak pertama kali ia bertemu. Waktu itu ia hampir telat untuk masuk kerja jadi ia terburu-buru dan hampir menabrak Narina. Sejak saat itu ia penasaran dengan sosok gadis itu, sampai akhirnya ia bertemu lagi dengan Narina di Universitas Al-Azhar. Ia semakin sering memperhatikan Narina saat gadis itu berada di kampus, tetapi Narina tak pernah menyadarinya. Baginya, Narina adalah sosok yang sederhana, lemah lembut dan ia bagaikan bunga yang bermekaran di musim semi. Narina cukup terkenal di kampusnya, ia adalah mahasiswi yang cerdas. Ia pun aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus.

Setibanya di rumah, Narina langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis hingga sesenggukan. Kedua temannya langsung menghampiri Narina, lalu Narina menceritakan apa yang ia alami hari ini kepada kedua temannya. Termasuk awal mula pertemuannya dengan Andi dan perasaan yang ia pendam pada Andi.
“Ya ampun Narina, kenapa kamu gak bilang ke Andi kalo kamu juga suka sama dia? Jelas-jelas kalian kan saling cinta,” tutur Lia,
“Tapi aku ga mau kalo kak Andi suka sama aku,”
Hikami dan Amalia langsung saling berpandangan, mereka bingung mengapa Narina bersikap seperti itu.” Aku itu ga mau kalo nantinya aku malah pacaran sama kak Andi, aku takut kalo kuliah aku jadi terganggu. Disini aku tinggal satu tahun lagi, aku pengen pulang ke Indonesia dengan gelar sarjana terbaik jadi aku gak pengen ngerusak impian aku itu dengan pacaran,” ungkap Narina.
Dengan spontannya, Lia langsung megeluarkan idenya, “ Emm gimana kalo kamu nikah aja? Kak Andi juga udah lulus, kan ga ada larangan menikah buat mahasiswa.”
Saran dari Lia hanya membuatnya semakin bingung, akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi Andi selama beberapa waktu. Ia butuh waktu untuk memikirkan masa depannya itu.
***

Sudah hampir sepuluh bulan Narina tidak bertemu dengan Andi, ada rasa rindu yang terbersit dalam hatinya tapi ia memilih untuk menahan rasa rindunya itu. Padahal Andi selalu berusaha untuk menemuinya, tapi ia selalu menolak. Ada saja alasan yang dibuat oleh Narina, padahal Andi telah membulatkan tekadnya untuk melamar Narina.
Dan sepuluh bulan setelah kelulusannya, usaha yang Andi rintis semakin maju. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia mencoba bisnis berbagai macam pakaian muslim secara online dan omset yang ia dapatkan sangat memuaskan. Mungkin cukup untuk biaya pernikahannya kelak, tapi belum ada jodoh yang tepat untuknya. Padahal banyak gadis yang menyukainya tapi entah mengapa ia selalu menolaknya. Hanya Narina yang selalu ada di pikirannya, ia yakin suatu saat nanti ia bisa mempersunting gadis pujaannya itu. Ia bertekad untuk selalu menunggu Narina, sampai gadis itu mau menerima ia sebagai suaminya.

Tak terasa, hari kelulusan itu telah tiba dan Narina dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik di kampusnya. Betapa bahagia dan terharunya dia, ia pun tak sabar untuk kembali ke tanah air dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia pun memutuskan untuk segera pulang ke Indonesia bersama Amalia. Sementara Hikami memilih untuk melanjutkan S2 nya, meskipun ada sedikit rasa sedih karena ia harus berpisah dengan kedua temannya tapi ia mencoba untuk tetap tegar karena ia memang bercita-cita untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Narina pun pulang tanpa sempat memberi kabar kepada Andi, karena ia sudah terburu-buru.
Dua belas jam di pesawat, membuatnya kelelahan. Tapi setibanya di rumah, seolah rasa lelah itu hilang sudah. Ia langsung memeluk kedua orang tuanya dan menangis di pundak ibunya. Mereka saling melepas rindu, lalu sang ibu bertanya pada Narina, “Ibu bangga sama kamu nak, kamu bisa memberikan yang terbaik. Lalu bagaimana dengan jodohmu nak, apakah kau sudah menemukan jodoh yang tepat di Mesir?”

Seketika itu juga Narina merasa seolah tubuhnya bak tersiram air panas, ia teringat dengan Andi. Ia tidak sempat menemui Andi, bagaimana nasib andi sekarang, semua itu hanya terbenak dalam pikirannya.
“Ditanya ko malah diem?”, ucap ibunya.

Ia mulai membuka suara, dengan terbata-bata ia menceritakan pada ibunya bahwa ia sudah menemukan lelaki yang ia dambakan tapi ia malah menjauhinya.
“Yasudah nak gak apa-apa, kalo jodoh gak akan kemana,”
Lalu ia masuk kedalam kamar, ia masih memikirkan Andi. Bagaimana Andi sekarang, sudah hampir setahun ia menjauhi Andi. Apakah Andi masih menyukainya,
***

Ibu Nafisah ingin sekali ke Mesir, maka sang Ayah mengajak istri dan anaknya untuk berlibur di Mesir selama beberapa pekan. Di sisi lain, Andi masih terus mencari Narina. Setelah Narina lulus, ia tak pernah memberi kabar pada Andi tapi tetap saja Andi setia menunggu Narina.
Saat Narina hendak berkunjung ke rumah Hikami, ia bertemu dengan Andi. Ingin rasanya ia memeluk Andi untuk menghilangkan rasa rindunya selama ini tapi ia tak bisa. Mereka berdua menangis dan saling bertatapan, Andi tak menyangka penantiannya selama ini membuahkan hasil.
“Narina aku sangat menyayangimu, selama ini aku selalu menunggumu tapi kau tak pernah ada kabar. Aku tak ingin bila harus kehilanganmu lagi, maka maukah kau menikah denganku?”

Narina pun tak bisa menjawab, ia merasa sangat terharu. Inilah saat-saat yang selalu ia tunggu. “Huhuhu aku juga sayang sama kakak, kalau begitu temui orang tuaku dan nikahi aku.”
“Baiklah kalau begitu, akan kusuruh teman-temanku untuk memanggil penghulu dan surat-surat pernikahan akan diurus secepatnya,”
Sesampainya di hotel, Andi langsung meminta ijin pada orang tua Narina untuk menikahi anaknya nanti malam ba’da Isya dan orang tua Narina menyetujuinya.
Setelah azan isya berkumandang, semua teman-teman Narina dan Andi yang berada di Mesir ikut datang untuk menyaksikan prosesi akad nikah mereka. Narina terlihat begitu cantik dengan pakaiannya yang serba putih, Andi juga terlihat tampan. Akad nikah mereka cukup sederhana.

Narina begitu bahagia, kini ia telah menemukan cinta sejatinya. Ia pun sempat meneteskan air mata saat Andi berkata,” Saya terima nikah dan kawinnya Narina Najmatunnisa binti Husein dengan seperangkat alat solat dibayar tunai.”
Semua hadirin pun turut berbahagia, akhirnya cinta Narina Najmatunnisa dan Andi Hanif Rahman berlabuh di Mesir.
Read More ->>

Ajariku Menjadi Muslimah


  Ajariku Menjadi Muslimah



Untuk kesekian kalinya surat-surat ini kutulis di atas kertas putih. Kosong. Ya, kertas itu kosong setelah beberapa tahun silam kucoret-coret dengan tinta kepahitan. Yang kusebut kenangan terindah, namun kini semua itu menjelma jadi tusukan duri yang hampir rapuh. Hingga kubiarkan saja rapuh, agar ia segera hilang dari ingatanku. Ku genggam jiwa yang kusebut CINTA, agar ia tetap menjadi penghuni di hatiku yang renta ini. Ku genggam senyuman insan yang kumiliki agar ia memperindah lembah hati yang sunyi ini menjadi seberkas bianglala. Sangkaku salah. Genggaman semakin erat CINTA itu semakin pudar, hilang. Senyum itu semakin hambar aku sruput bak kopi hitam yang mendingin sedari dulu.
Aku lepas!
Aku hilang kendali!
Aku jatuh! Sakit!
Aku berteriak seperti burung cangak yang meneriakkan suaranya di malam yang pekat.
Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan, atau jajanannya.
Sesekali ku panggil ibu!
Sesekali ku gapai ibu!
Sesekali ku bertelepati dengan ibu!
Namun ibu tetaplah jauh dari hatiku. Tetaplah di sudut kota kelahiranku, dan aku. Aku di sudut kota yang ku sebut lembah sunyi. Lembah sunyi yang menghilangkan CINTA dari hatiku. Lembah sunyi yang menyudutkanku terus menerus semakin dalam, dalam, dan dalam. Tanpa penerangan, tanpa lentera. Namun aku masih memgang sebuah tongkat yang diturunkan dari syurga, Ibu. Tongkat itu adalah ibu.
Di dalam lembah sunyi, ku terus berjalan menyusuri lorong waktu. Yang ku tahu waktu itu seperti kereta yang hanya berhenti di stasiun saja. Setelah ia pergi, maka ia tidak akan peduli dengan penumpangnya yang ketinggalan. Aku tidak mau! Aku tidak mau ketinggalan waktu itu. Aku bangkit dan berjalan di atas kerikil-kerikil tajam yang terinjak kakiku. Kemana? Untuk apa? dan pada siapa aku akan melabuhkan diriku ini. Allah. Allah yang akan menampungku, bebanku, tangisku, juga semua yang ku angkut bersama jiwa yang tak sepadan denganNYA.
Terus dan terus ku melaju. Akhirnya kutemukan setitik cahaya pengganti hilangnya Cintaku. Persahabatan. Persahabatan yang kurasakan sungguh ini baru pertama kali. Kuraba ia sangat membingungkanku. Bagaimana tidak?! Aku yang ingin berbagi kasih bersamanya, namun mereka menghadirkan sekelumit CINTA. Antara segitiga yang ku tahu tidak akan menemukan kesejajaran. Persahabatan yang menyita pikirku tidak sejalan dengan nuraniku. Aku telah dihadapkan dengan persimpangan. Arah mana yang akan aku tapaki? Atau aku akan berputar arah yang telah jauh aku tinggalkan?
“TIDAK!!” teriaku dalam hati. Aku tidak akan berputar arah lagi. Aku akan terus berjalan, berjalan dan berjalan mengikuti lorong waktu itu. Aku yakin lorong waktu itu belumlah sampai pada tujuanku. Benar. Itu belum sampai.
Ah, aku tidak peduli lagi dengan persahabatan yang menyita waktuku itu. Yang menghadirkan persimpangan di hadapku. Kuteruskan saja jalan ku, ku lanjutkan saja menjadi masinis yang mengemudikan kereta ku. Lama, ya terlalu lama aku mengemudikannya. Terkadang aku lelah, terkadang aku jenuh, terkadang aku sepi. Tapi, tunggu!
Bukankah di depan itu ada setitik cahaya yang bisa kutangkap dengan mataku. Senyumku renyah saat kutemui itu memang benar-benar cahaya. Cahaya yang awalnya memberi kehangatan bagiku. Cahaya yang awalnya memberi penerangan bagi jalanku. Cahaya yang kurasakan bahagia bila ia mengecup hatiku. Cahaya yang mencuatkan cinta untukku. Bahagia bukan? YA, aku bahagia atas hadirnya cahaya itu. Cahaya yang ku sebut Cinta. CINTA? lagi-lagi cinta. Tidak.. ini bukan cinta. Ini adalah sepercik dari kilatan cahaya sejati yang aku rasakan sesaat saja.
Seiring waktu yang berputar namun pasti. Aku merasakan lagi kehambaran, keredupan atas cahaya itu. Semakin hari semakin gelap, pekat. Cahaya itu hilang, melayang tiada kudapatkan lagi. Kumencari-cari sampai ke sela tumpukan jerami, namun tiada kutemui. Kutanyai pada malam-malam yang berbintang, tetap saja ia membisu. Atau cahaya itu menyinggahi hati yang lain, setelah tahu hatiku ini terasa hambar, pahit.
Aku terduduk lesu menyaksikan cahaya itu menerangi hati yang lain. Hingga mata ini menghadiahkan hujan yang tiada reda untuk kuusap sekilas saja. Ranting yang mulai mencabangkan akar-akar cinta, kini merapuh lagi. Bunga yang ingin terkecup oleh wangi cahaya cinta, akhirnya layu juga. Hingga ku terbangun dari mimpiku, dan menyusuri lorong waktu kembali. Sekelumit cahaya-cahaya cinta itu hanyalah hilirnya saja. Biar kubawa sepenuh hatiku yang hancur ini berjalan menemui hulu sang pencipta Cinta. Karena aku tahu cinta suci itu akan bertumpu pada ALLAH.
Read More ->>

Sahabat Sejati


Sahabat Sejati.

           Di atas tendon ini. Di kala senja, aku terduduk merenungi kehidupanku. Mencoba membandingkan kehidupanku dengan kehidupan yang lain di alam ini. Teduhnya senja membuat suasana hatiku lebih tenang. Senja yang selalu bisa membuatku rileks. Senja yang selalu bisa membuat suasana hati yang kalut menjadi plong. Senja yang selalu bisa membuat jiwaku yang tertekan merasa bebas. Ya, bagiku senja adalah sahabat sejatiku. Dan tidak pernah aku mendapatkan sahabat sejati yang benar-benar senjati seperti senja.
Aku memandang lurus ke depan sana. Tampak hamparan luas alang-alang yang menari di antara tiupan angin. Burung-burung bernyanyi berkejaran bersama kawananya. Aku iri pada burung itu. Mereka begitu riang. Hidup bebas tanpa tekanan dan tuntutan. Beda denganku yang selalu ketakutan akan masa depan yang belum tentu akan terjadi. Aku hidup kaku dengan aturan-aturan manusia yang kadang bagiku itu mekekang kebebasan. Aku ingin seperti burung.

Katanya hidup dengan seribu sahabat itu kurang dan satu musuh itu sangat membebani. Aku tak tahu apakah aku memiliki musuh atau tidak. Tetapi untuk orang yang aku benci tentu ada. Orang yang kita benci bukan berarti musuh. Tetapi musuh adalah jelas orang yang kita benci. Aku tak suka dengan sifatnya bukan orangnya. Sementara mencari seribu sahabat, aku sanksi. Aku tidak seperti kebanyakan pemuda pada umumnya. Aku takut terhadap orang. Hal tersebut terjadi karena ketidak nyamananku berada di dekat mereka. Ketidak nyamanan itu muncul akibat ketidak pedeanku. Ketidak pedean itu muncul karena aku merasa berbeda, merasa memiliki terlalu banyak kekurangn dibanding mereka. Bila berada di antara mereka rasanya ada satu jarak yang membatasi diriku dengan mereka. Satu dinding kasat mata yang seolah memisahkan dimensiku dari dimensi mereka. Dan aku hanya bisa menyaksikan keakraban mereka tanpa bisa ikut merasakanya. Itulah yang menyebabkanku sering merasa sendiri di tengah keramaian. Aku penyandang asperger, itu diagnosaku setelah membaca di perpustakaan google.

Jika bicara tentang persahabatan, walaupun aku takut terhadap orang, bukan berarti aku tidak memiliki sahabat sama sekali. Aku memiliki beberapa nama sahabat yang namanya ku ukir di hati. Sahabat yang susah payah aku mendapatkanya. Bagaimana tidak, dari proses mengenal sampai menjadi sahabat butuh waktu hingga bertahun-tahun. Tapi sayangnya, di antara sekian nama yang aku ukir, hanya satu nama yang benar-benar masih ada untuku. Sisanya entah kemana. Kadang aku merasa terbuang. Mereka yang dulu selalu bersama, meninggalkanku yang kala itu terpuruk. Aku tak tahu kenapa mereka menjadi seperti itu. Mungkin karena mereka terlalu sibuk dengan kuliahnya atau mungkin hal lain sehingga tidak sempat berkomunikasi lagi denganku. Atau kemungkinan yang terparah, mereka memang membuangku. Mereka menganggapku hanya sahabat sambil lalu.
Pernah satu ketika aku menghubungi salah saatu sahabat terbaiku lewat whatsapp. Dia adalah seseorang yang aku kagumi. Dari dialah aku mendapatkan gelar “Skeptis”. Aku menanyakan kabarnya, dia membalas “Ini siapa?”. Aku menjawab “Ini aku Sofyan Iskandar alumni IPA 1.” Tak ada balasan sama sekali. Entah tak ada pulsa atau mungkin memang sengaja tak membalasnya. Aku yakin dia sengaja tidak membalasnya. Bukan berburuk sangka, aku mengatakan begitu karena memiliki alasan. Alasan pertama, dia tidak pernah mengseve nomor Hpku padahal dulu sering chat. Baik di whatsapp maupun di kakao. Ini dibuktikan dengan dia tidak mengenali nomorku. Kalaupun ganti Hp itu bukan suatu alasan baginya mengabaikanku. Kedua, dia tidak membalas chatku setelah aku menyebutkan namaku. Alasan kedua adalah alasan penguat alasan pertama. Sunggung sakit hati ini. Aku menganggap dia lebih dari seorang sahabat biasa. Tapi nyatanya dia menganggapku… entahlah.
2010 adalah tahun paling kalut di hidupku. Aku kehilangan keluarga, orangtuaku bercerai. Kami terpecah. Adiku yang memiliki mimpi menjadi perawat harus mengkandaskan mimpinya. Dia memilih menikah karena tidak ingin ikut dengan Mamah terlebih Bapak. Adikku yang kedua sekaligus bungsu harus kehilangan kasih sayang yang utuh disaat dia sangat membutuhkanya. Dia baru belajar berjalaan kala itu. Mamah, wanita tegar, wanita yang senantiasa melakukan yang terbaik dalam perananya sebagai seorang ibu dan istri memilih pergi ke Kalimantan. Aku sendiri, di tengah kekuranganku, aku mencoba berjuang sendiri di kerasnya kehidupan kota. Jangan tanyakan tentang mimpi masa depanku, karena mimpi itu juga hancur dirampas oleh takdir. Sementara Bapak, dia yang paling bahagia dengan perceraian itu. Dia akhirnya bisa bersatu dengan wanita salihah selingkuhannya itu. Ya, Bapak pernah bilang kalau selingkuhannya itu adalah seorang wanita salihah. Aku hanya ingin tertawa mendengar perkataannya itu. Wanita salihah sama dengan wanita pengganggu rumahtangga orang? Yang benar saja.
Kehilangan memang sesuatu yang menyakitkan. Dalam hidup ini, setiap manusia pasti akan mengalaminya. Aku bukan saja kehilangan keluargaku, mimpiku, akan tetapi aku juga kehilangan orang-orang yang aku anggap sahabat. Ketika aku terjatuh, tak ada satu pun dari mereka yang mencoba menyanggaku. Hati yang hancur semakin hancur. Aku tak tahu harus melakukan apa untuk mengurangi rasa sakit yang terus menggerogoti hati ini. Akhirnya aku berubah. Ya, rasa sakit itu membuatku berubah. Aku yang anti rok*k mulai bersahabat dengannya. Aku yang membenci minuman keras mulai berkenalan dengannya. Sahabat-sahabatku yang mulai tahu keburukanku itu berkomentar pedas akan hidupku. Dan aku tak peduli. Selama ini mereka kemana? Ketika aku membutuhkanya, mereka tak ada. Kenapa mereka datang. Datang dan pergi kembali. Karena setelah mereka mencaciku mereka langsung pergi.

Malam kian kelam. Sekelam hatiku yang kian tenggelam oleh kelamnya kesendirian, kelamnya kehampaan. Aku benci kepada mereka, Abdul, Bayu dan Dedi. Tidur tenang setelah tadi tertawa-tawa bersama. Tiada sapaan atau sekedar basa basi apalah. Mereka membiarkanku sendiri dalam lamunan. Padahal kami tinggal sekamar di camp ini.
Aku menatap satu persatu wajah tenang yang aku benci itu. Ubay, seorang pemuda berumur 20 tahun. Berkulit hitam manis. Pandai memikat orang dengan tutur katanya yang sopan. Dia mampu menempatkan diri dengan baik ketika berada di antara orang-orang. Dan aku membencinya karena aku tidak seperti dirinya. Dedi, dia juga seumuran dengan Ubay. Tetapi dia lebih kurus dan lebih pendek. Giginya gingsul di sebelah kiri. Dedi adalah anak yang ramah. Dia murah senyum. Hidupnya lepas. Dan aku membencinya karena aku tidak seperti dirinya. Yang terakhir adalah Abdullah, dia paling sempurna di antara mereka. Jujur aku tidak ingin membencinya. Malah aku ingin bisa dekat denganya. Dia adalah calon sahabat sempurna di mataku. Abdullah juga berumur sama dengan Ubay dan Dedi. Dia memiliki kulit putih. Rambutnya cepak. Badanya proporsional. Dia rajin beribadah dan pandai mengaji. Sempat sekali waktu aku mendengar tilawahnya. Rasanya pilu. Pilu karena aku tidak seperti dirinya. Dia dekat dengan Tuhan sementara aku jauh. Dan itulah yang membuatku membenci dia.
Entah setan apa yang merasukiku, atau mungkin diriku memang sudah menjadi satu dengan setan. Bagiku, hidup mereka terlalu mudah. Aku akan membagi rasa sakit yang selama ini bersarang menggerogoti hatiku kepada mereka. Aku harus melakukan sesuatu.

Belati yang indah, belati kesayanganku. Aku mendapatkanya tiga bulan yang lalu di sebuah toko penjual senjata tajam. Belati ini belum pernah aku pakai sebelumnya, akan tetapi selalu ku asah setiap tiga hari sekali dikala senja untuk menjaga agar dia tak dimakan karat. Dan aku ingin menguji seberapa tajam belati kesayanganku ini.
Aku kembali melihat Ubay. Aku Mengecup keningnya sebagai tanda perpisahan. Ku jilat sedikit bibirnya. “Maafkan aku bocah menyenangkan. Aku bukan tak senang padamu. Tetapi aku hanya ingin berbagi rasa sakit denganmu”. Aku mengangkat belatiku, mengarahkanya ke dada bidang Ubay. Tepat mengenai jangtungnya. Aku segera membekap mulutnya dengan bantal untuk meredam suara sekaratnya. Suara percakapan dia dengan malaikat maut. Sekarang dia telah diam, kaku dan perlahan mendingin. Ku cabut belati kesayanganku, belati kebanggaanku dari dadanya. Darah yang keluar dari dadanya sungguh wangi. Berwarna merah segar. Aku mendekatkan mulutku tepat di dadanya yang terluka. Ku hisap sedikit, lalu aku menjilatinya sebentar. Nikmat sekali. Aku puas. Hahahaha… aku sangat puas.
Kini giliran Dedi, anak gingsul yang ramah ini akan segera menyusul temanya, Ubay. Ku pandangi sekali lagi dia. Kurus, pasti lebih mudah untuk menghunuskan belati ini ke dadanya. Aku Mengecup keningnya sebagai tanda perpisahan. Ku jilat sedikit bibirnya. “Maafkan aku gingsul. Aku bukan tak senang padamu. Tetapi aku ingin kamu menemani Bayu. Karena bukankah kamu pernah bilang bahwa bayu adalah sahabat sejatimu? Sudah sepantasnya seorang sahabat sejati itu selalu ada di samping sahabatnya. Kala senang maupun susah”. Aku tersenyum padanya seraya mengangkat belatiku dan mengarahkanya ke dada kering Dedi. Tepat mengenai jantungnya. Aku segera membekap mulutnya dengan bantal, sama seperti apa yang ku lakukan kepada Bayu. Ku cabut belati kesayanganku, belati kebanggaanku dari dadanya. Darah bocah ginsul itu mengalir deras. Warnanya merah pekat, baunya segar. Aku mendekatkan mulutku tepat di dadanya yang terluka. Ku hisap sedikit, lalu aku menjilatinya sebentar. Darahnya yang merah pekat lebih gurih dari pada darah Bayu yang merah segar.
Tinggal satu lagi. Bocah cepak yang rajin shalat dan pandai tilawah ini. Aku pandangi dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki sekali lagi. Ada satu rasa yang aku sendiri tak mengerti apa itu. Wajahnya begitu teduh menenangkan. Ternyata dia terlihat lebih tampan ketika tidur. Nafasnya teratur. Orang baik seperti dia pastiah diberikan mimpi yang indah dalam tidurnya. Mimpi bertemu bidadari-bidadari. Tidak seperti diriku, seringnya tidak bermimpi. Sekalinya bermimpi, bukan mimpi indah yang aku dapati. Mimpi dikejar hantu lah, buaya lah, diguna-gunain orang lah dan lain-lain yang tak kalah mengerikannya.
Aku Mengecup keningnya sebagai tanda perpisahan. Tetapi tidak kujilat bibirnya. Aku melewatkan satu ritual itu. Aku tak berani. Ada sesuatu yang menghalangiku, dan aku tak kuasa menembusnya. Tiba-tiba air mataku menetes. Ada rasa pilu yang mengalir di dalam darahku. Ada rasa sakit yang menusuk hatiku. Rasa takut kehilangan. Dia, bocah pelontos itu, kenapa aku tak bisa? Dua bocah sebelumnya berhasil ku bunuh dengan lancar tanpa satu kendala apapun. Tetapi dia…
“Maafkan aku… maafkan aku… Abdul… lah… aku tidak ingin kamu bersama mereka. Aku ingin kamu menjadi sahabatku. Akan tetapi, aku lebih hina dibanding mereka. Aku hanyalah seorang manusia yang menyesatkan dirinya. Yang hatinya diselimuti kabut hitam nan pekat. Maafkan aku… aku harus mempersatukanmu bersama mereka, Bayu dan Dedi”. Aku mengarahkan belati pada dadanya. Setetes air mataku jatuh tepat ke bibirnya. Terhisap olehnya. Aku memalingkan wajahku.
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Suara adzan subuh berkumandang.
Asyhadu Alla Ilaha Illallah
Asyhadu Alla Ilaha Illallah
Syahdu dan merdu ditengah heningnya pagi.
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah
Tanganku berhenti bergerak
Hayya’alash Sholah
Hayya’alash Sholah
Bibirku terkunci, hatiku bergetar hebat.
Hayya’alal Falah
Hayya’alal Falah
Pilu. Mata ini semakin deras mengucurkan air mata.
Ashalatu Khairum Minan Naum
Ashalatu Khairum Minan Naum
Ada rindu yang membuncah. Merasuk qalbu.
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Lailaha Ilallah
Ada penyesalan yang teramat dalam menusuk hati.
Aku ingin kembali
Kembali padaMu wahai Tuhanku
Tiba-tiba aku tersadar dari keterpesonaanku terhadap adzan subuh tadi. Hati yang sempat dingin, bergolak kembali. Putih yang sempat menyelimuti, tenggelam kembali. Hitam kian bertahta menjajah hati. Misiku belum selesai. Aku tak bisa membiarkan Abdullah hidup. Dia akan membuatku sengsara. Dia pasti akan melaporkanku ke polisi. Ku tarik nafas dalam-dalam, ku keluarkan perlahan, berat… berat sekali. Ku tutup mataku dan ku hunuskan belati itu tepat ke jantungnya.

Mataku terbuka. Cahaya lampu mebuatku harus sedikit menyipitkan mata. Aku tak tahu apa yang terjadi tadi. Samar-samar aku melihat sesosok pemuda. Abdullah, ya Abdullah. Dia tersenyum padaku. Senyuman manisnya yang juga membuatku iri. Apakah tadi aku belum membunuhnya? Ataukah Abdullah yang berada di depanku adalah arwah yang ingin balas dendam? Badanku mendadak dingin. Bulu kuduku berdiri. Dia terus menatap lekat mataku. Tersenyum padaku. Belati, di mana belatiku. Ku lihat tanganku, tidak ada darah. Tanganku bersih. Aku cubit pipiku, rasanya sakit. Dia tertawa. Apa yang dia tertawakan? Apakah ada yang lucu denganku? Ataukah dia senang melihat diriku yang ketakutan ini? Tetapi, kalau dia hendak membalas dendam, mengapa tatapanya itu teduh? Aku tidak merasa dia mengintimidasiku. Dia terlihat manis seperti biasanya. Ahhhhhh…
“Kang.. Kang, bangun! Ini Abdullah.”
“Dari semalam badan Akang panas. Aku, Bayu dan Dede gantian jagain Akang. Syukur kalau Akang sudah bangun. Itu artinya Akang sudah baikan”.
“Panas? Baikan? Kamu? Kalian? Jagain Akang?”
“Yupe.”
“Kamu jangan berpura-pura membohongiku. Jika kamu ingin balas dendam, bunuh saja aku. Aku juga sudah bosan hidup. Jangan berpura-pura baik lalu menerkam. Aku gak suka”.
“Astagfirullah, Kang. Eling, buat apa Abdul bunuh Akang. Apa untungnya coba? Akang mimpi buruk ya?”
“Mimpi buruk?”
“Ya mimpi buruk.”
Aku terdiam kaku. Tak ada niat sedikitpun tuk bangun. Semuanya membuatku pusing. Jika tadi adalah mimpi, mengapa semuanya terasa begitu nyata. Mengapa aku sangat menikmatinya. Jika saat ini adalah nyata, mengapa mereka begitu baik. Bergantian menjagaku yang sakit. Tadi sore aku memang tak enak badan. Tetapi aku tak tahu kalau malam tadi demamku semakin tinggi.
Tiba-tiba Abdul bangkit, dia mengulurkan tanganya.
“Shalat yu!”
“Shalat?”
“Ya, shalat!”
Dia mengajaku shalat. Apakah tidak salah? Tiga tahun setengah, semenjak kedua orangtuaku berpisah, aku tidak mau lagi mengenal kata shalat. Aku kecewa kepada Tuhan. Aku merasa Dia tak adil. Sekarang, anak ini, Abdullah, mengajaku shalat? Padahal dia tahu sendiri kalau aku tak pernah shalat.
“Kang…”
Dia membuyarkan lamunanku. Tanganya masih terulur untuku. Rasa apa ini? Aku seperti ingin meraihnya.
Kini, tanganya telah menggenggam tanganku. Hangat, nyaman, rasanya hati yang kosong ini penuh terisi. Aku tak ingin tangan ini berpisah. Setidaknya dalam jangka waktu lama.
Dia menuntunku ke kamar mandi.
“Kang, Akang yang duluan wudhu ya. Aku mau bangunin Bayu sama Dedi dulu. Kasihan mereka kalau gak dibangunin. Nanti shalatnya berjamaah. Akang masih ingatkan do’a wudhu?”
Aku hanya mengangguk. Walaupun sudah tiga setengah tahun aku tak shalat, aku masih ingat do’a berwudhu.

Aku, Bayu dan Dedi berdiri di belakang Abdul. Dia yang menjadi imam kami.
“Aku lupa do’a kunut”. Celetuku
“Do’a kunut kan sunat, jadi kalaupun gak dipakai, ya gak apa-apa”
Aku mengangguk.
“Ushali Fardhash-Subhi Rak’ataini Mustaqbilal-Qiblati ada’an Ma’muman Lillaahi Ta’aalaa. Allahu Akbar”. Aku mengangkat kedua tanganku kemudian meletakanya di dada.

Tenang, itulah yang aku rasakan saat ini. Ridu yang selama ini terkubur bangkit kembali. Aku merasa lebih ringan. Ketika shalat dan berdo’a tadi, air mataku bercucuran tanpa henti. Mungkin aku kelihatan cengeng di mata mereka. Tetapi aku tak peduli. Yang terpenting buatku adalah, aku bisa merasakan kerinduan yang sekian lama terpendam ini.
“Kita ngaji dulu yah!” ajak Abdul.
“Boleh…” Bayu dan Dedi kompak
“Surah apa?” tanya Dedi
“Menurut Kang Iskandar, kita mengaji apa hari ini?” Abdul meminta pendapatku
“Terserah kalian saja.” Jawabku
“Ayolah Kang, sekarang anggap saja hari spesial Kang Iskandar. Jadi, kita mau mengaji surah apa?” bujuk Abdul
Aku berfikir sejenak. Coba mengingat-ingat sesuatu.
“Hmmm… waktu aku kecil dulu, setiap malam jum’at, aku dan guru ngajiku selalu membaca sepuluh ayat pertama surah At-Kahfi dan Surah Yasin. Tapi, hari ini kan minggu pagi.”
“Mengaji iu tak pandang hari, Kang. Ga ada aturanya juga harus ngaji surah ini di hari ini.” Abdul tersenym kepadaku
Kami mulai mengaji. Abdul yang memimpinya. Tilawah pagi ini menyempurnakan pelepasan rinduku kepada Tuhan.
Mulai pagi tadi, aku dan mereka resmi bersahabat. Aku menceritakan semua mimpiku dan keluh kesahku kepada mereka. Mereka memang pendengar yang baik. Mereka bukan hanya sekedar bersimpati kepadaku, tetapi juga berempati. Dan aku baru sadar akan sesuatu tentang diriku. “Bukan mereka yang menjauhiku, bukan pula mereka yang tak mau menjadi sahabatku selama ini. Akan tetapi aku yang terlalu menutup diriku sehingga mereka tidak bisa menjangkaunya”. Harapanku, persahabatan yang diawali dengan indah ini akan berakhir dengan indah pula. Amin.
End
Sedikit celoteh* untuk sahabatku
Sahabat, sedang apa kalian di sana? Apakah pernah satu ketika kalian merindukanku seperti aku yang sering merindukan kalian? Apakah pernah satu ketika kalian memikirkanku seperti aku yang sering memikirkan kalian? Apakah pernah satu ketika kalian mengenang kebersamaan kita dulu seperti aku yang selalu mengenangnya? Apakah kalian mengukir namaku seperti aku yang mengukir nama kalian?
Sahabat, bagaimanapun sikap kalian kepadaku saat ini, kalian adalah sahabatku, dan tetap akan menjadi sahabatku. Aku akan tetap merindukan kalian, memikirkan kalian, mengenang kebersamaan kita dulu dan aku takkan pernah menghapuskan nama kalian di hati ini. Percayalah, karena ini janji seorang sahabat sejati untuk sahabat sejatinya. Aku cinta kalian semua.
Read More ->>

Senin, 09 Maret 2015

Tangis Untuk Mu

 Tangis Untuk Mu


Malam ini aku terbangun dari tidurku begitu cepat. Dan saat ku lihat waktu masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku mendengar suara tangisan yang aku tak tau tangisan siapa itu.

"Siapa yang menangis malam-malam seperti  ini?" lirihku.

Akupun beranjak dari tempat tidurku untuk mencari sumber tangisan itu. Dan langkahku terhenti ketika aku melewati lemari pakaiannku. Suara tangisan itu terdengar semakin dekat dan jelas. Awalnya aku sempat takut, namun rasa penasaran ini mengalahkan rasa takutku. Akhirnya ku memberanikan diri untuk membuka lemari itu. Dan ternyata tak ada sesuatu  yang aneh disana, yang kudapati hanya 

pakaian-pakaianku yang tertata rapi. Namun tangisan itu semakin dekat dan semakin dekat. Hal itu yang membuatku terus mencari sumber tangisan itu dengan membongkar semua pakaianku. Pencarianku terhenti ketika ku temukan sebuah jilbab di hadapanku.

Ternyata jilbab itu yang menangis. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang aku alami saat ini. Tapi memang benar jilbab itu yang manangis. Tak berapa lama setela

h ia menagis, jilbab itu mulai  mengatakan sesuatu.

“YaAllah YaTuhanku… sungguh aku bersyukur Kau mentakdirkan aku menjadi sesuatu yang Kau wajibkan bagi HambaMu, sehingga aku selalu menjadi yang berharga dan terpenting untuk mereka. Tapi tidak untuk kali ini Robb.. aku yang Kau wajibkan ini tak berharga di matanya, aku yang Kau wajibkan ini menjadi barang yang tak berguna untuknya. Aku tak pernah ia kenakan lagi Robbi.. Aku telah menjadi sejarah untuknya. Ampuni dia yaAllah, berikanlah ia hidahayahMu, sadarkan ia, jadikan ia mengerti akan kewajibanku untuknya…”

Aku yang saat itu masih berdiri di lemari yang terbuka dan dihadapan jilbab yang sedang bermunajah kepada Robb-nya  hanya bisa menangis dan menyesali  semua itu. Kusadari akan kelalaian kewajibanku. Aku hanya memakainya dikala waktu-waktu tertentu. Oh Robb.. ampuni aku

Tak berapa lama, aku kembali mendengar suara sesuatu yang merintih. Namun kali ini bukan lagi berasal dari jilbab yang tadi dihadapanku. Melaikan dari Al-Qur’an yang tersimpan rapi di rak bukuku.

“Ilahi.. mungkin diantara ciptaanMu aku adalah ciptaanMu yang paling suci. Benda yang selalu diagung-agungkan oleh hambaMu, sesuatu yang berisi semua firman-firmanMu , sesuatu yang dijadikan pedoman bagi semua ciptaanMu, yang jika dilantunkan hati ini menjadi tenang karnaMu. Ilahi.. sungguh aku bahagia akan takdirMu ini. Namun Ilahi, disini aku hanya menjadi buku biasa yang tak berharga. Aku hanya menjadi sesuatu yang tak bernilai. Aku telah lama disimpannya disini. Aku rindu ia yang dulu, ia yang setiap hari tak pernah melewatkan untuk melantunkan ayatMu dengan merdunya. Kini suara merdunya telah ia berikan untuk lagu-lagu yang sama sekali tidak mendekatkannya kepadaMu Ilahi. Kembalikan ia seperti dulu, maafkan kesalahannya wahai Sang Pengampun, serta berikanlah ia hidayahMu wahai Sang Pencerah”.

Setelah mendengar semua itu, tubuhku terkulai lemas. Rasanya tak sanggup lagi aku menopang tubuh ini. Dan akupun terjatuh dari tempatku berdiri. Tuhan.. sekali lagi ampuni hamba.
Selang beberapa detik. Telingaku kembali mendengar rintihan sesuatu.

 ‘Wahai Dzat yang menjanjikan ampunan, ampuni dia yang memilikiku. Dia yang yang selalu menyia-nyiakanku, dia yang hampir selalu menunda-nunda untuk memakaiku, menunda-nunda untuk menghadapMu. Robbi.. ampuni ia yang juga tak pernah ikhlas menjalankan kewajibanMu. Ia yang hanya mengingatMu dikala susah, dan ia yang melupakanMu di saat senang. Ampuni ia Ilahi..’
Rintihan itu trnyata dari mukenahku.

‘YaAllah.. untuk kesekian kalinya ampuni aku yang terlampau sering menunda-nunda waktu untuk berjumpa denganMu, dan ampuni aku yang yang tak pernah ikhlas menjalankan kewajibanku. Robb.. sungguh aku malu mendengar semua ini. Benda-benda ciptaanMu yang tak Kau beri akal dan hati semuanya tunduk kepadaMu. Sedangkan aku, aku yang Kau ciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, mahluk yang mempunyai akal, fikiran dan hati selalu ingkar dan lupa  akanMu. Oh Ilahi.. kata maafpun rasanya tak pantas terucap dari bibir manusia yang penuh sekali dengan dosa untukMu yang tak pernah berhenti menberikan nikmat untukku. Namun hanya Engkau Tuhanku, hanya Engkau yang patut aku sembah, dan hanya kepadaMu aku memohon ampun. Ampuni hamba Robb..’ 


Dan lagi-lagi aku mendengar rintihan dan tangisan yang sangat dekat dengan telingaku. Dekat sekali. Ternyata rambut panjang yang menjadi icon kebanggaankulah yang menangis dan merintih.

 ‘Wahai yang Maha Agung. Aku bahagia telah menjadi mahkota untuk HambaMu. Aku telah mengindahkan rupa mereka atas izinMu. Tapi yaAllah.. sungguh aku malu menjadi mahkota wanita yang ini. Wanita yang mempertontonkan aku kepada siapa saja yang bukan muhkrim baginya. Dengan mudah dan begitu bangganya dia memamerkan keindahanku. Oh Robb.. sungguh aku malu, aku malu telah di pertontonkan, dan aku malu telah dipamerkan. Terbakar oleh api nerakaMu jauh lebih baik untukku dari pada aku terus dipermalukan olehnya. Ku mohon bakar aku robbi, bakar aku, bakar aku, bakar aku, bakar aku………….’
“TIDAK…………………….”  Teriakku.
Aku terbangun dari tidurku.


 “YaAllah ternyata semua itu hanya mimpi. Mimpi indah sekaligus mimpi buruk untukku. Indah karena Kau ingatkan aku. Buruk karena aku malu akan semua sikap-sikapku.”
Segera aku beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil air wudhu dan mendirikan sholat malam yang hampir tak pernah aku dirikan.


Robbi..
Izinkan aku mengucap taubat kepadaMU
Izinkan aku memohon ampunanMU
Bantu aku untuk memenuhi segala kewajibku
Bantu aku untuk menjahui segala laranganMU
Serta bantu aku untuk tidak kembali ke jalan yang bukan RidhoMU
Ilahi..
Jadikan taubatku ini taubatan nasuhah
Dan jadikan hijrahku hijrah yang kaffah


Semoga saja setelah membaca  Cerpen Islami : Tangis Untuk Mu ini Ada cahaya yang di Sudut hati Kita, Cahaya yang Mengantarkan diri untuk Bercermin Tentang apa yang telah Kita lakukan selama ini.
Read More ->>