- SUBHANALLAH...Kisah Nyata Sangat Mengharukan, Suami ini Tidak Pernah Menyentuh Istrinya Sejak Menikah, Ternyata Karena. Ini adalah sebuah kisah nyata yang sangat mengharukan, sebuah kisah yang mengajarkan kepada kita tentang apa artinya cinta,
cinta kepada Allah SWT, cinta kepada orang tua dan cinta kepada
pasangannya. Sebelum membaca kisah ini, sebaiknya kamu siapkan tisu
terlebih dahulu karena dijamin kamu akan menangis. Yuk, simak kisah nyata sangat mengharukan selengkapnya berikut ini.
Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani di bawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat Tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit.
Tubuhnya
demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara
menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku
khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya
Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali
meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang.
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang.
Kasihan
Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun
dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan
selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan
diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu
bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan
keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba
suhu panas tubuhnya.
Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? Kenapa ada di bawah? Nanti kau kedinginan? Ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku.
Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? Kenapa ada di bawah? Nanti kau kedinginan? Ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku.
Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain.
Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari
air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan
dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung
juga.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? Bukankah aku ini istrimu? Bukankah aku telah halal buatmu? Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? Apa artinya diriku bagimu kak? Apa artinya aku bagimu kak? Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? Mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? Bukankah aku ini istrimu? Bukankah aku telah halal buatmu? Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? Apa artinya diriku bagimu kak? Apa artinya aku bagimu kak? Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? Mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri.
Apakah
saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? Kakak tahu dan kakak
yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini
begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru
kakak kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak
sebenarnya dengan semua ini?” ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini padaku? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? Dan apa pekerjaan seorang pelacur? Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini padaku? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? Dan apa pekerjaan seorang pelacur? Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak
.
Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala
dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia
sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat
itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.
Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu.
Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu.
Tapi
begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kakak melihat dengan
mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada
kekasihmu Boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai
kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya
selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas
kebahagiaanmu.
Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?
Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu.
Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?
Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu.
Agar
kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah
apabila hari ini kau telah mencintai kakak. Kakak juga merasa bersyukur
bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak
perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i.
Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan
busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan
niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia.
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia.
Sebab
meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan
mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan
bahagia. Kak Arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti
seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua.
Darinya
aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku
dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan
untuk menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan.
Ternyata
dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir
saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir
kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir
Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.
Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut.
Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut.
Aku
sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku
kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku.
Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu
singkat.
Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik.
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik.
Jadikan
dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi
yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan
dia.
Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.
Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu.
Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.
Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu.
Senantiasalah
berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan
berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang
pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa
menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan.
Tetapi
aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga
Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu
mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam.Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan.

